Fajar Gegana: Pembelajaran Sekolah Secara Daring Harus Dihitung Betul, Wilayah Kita Banyak Blankspot !

by -252 views
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Fajar Gegana
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Fajar Gegana

Yogyanews.com – Pemerintah pusat akan memberlakukan pembelajaran sekolah secara dalam jaringan (daring) atau online mulai April 2026.

Hal ini dilatarbelakangi penghematan energi sebagai respon atas situasi geopolitik global, khususnya perang di Timur Tengah.

Menanggapi hal itu, Fajar Gegana, Anggota Komisi D DPRD DIY mempertanyakan kesiapan sarana prasarana dan juga efektivitas pelaksanaan pembelajaran secara daring.

“Khusus untuk pendidikan juga harus diperhatikan sarana prasarananya. Apakah bisa daring itu betul-betul efektif?” kata Fajar Gegana, Anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Selasa (24/3/2026).

Menurut Fajar, berdasar pengalaman pembelajaran daring pada masa pandemi Covid19 lalu, banyak ditemukan kendala terkait sarana prasarana, mulai dari gagdet, dan masih banyaknya blankspot.

“Pengalaman covid dulu, tidak semua siswa punya gadget. Sinyal juga masih banyak yang blankspot, sehingga masih banyak kendala bagi anak-anak kita untuk mengikuti belajar sistem daring,” tandas Fajar Gegana.

Persoalan pengawasan pelaksanaan pembelajaran secara daring juga perlu dikaji secara matang. Jangan sampai kebijakan pemberlakuan pembelajaran daring yang diterapkan justru asal-asalan tanpa persiapan matang yang kemudian justru berdampak pada penurunan kualitas pendidikan.

“Pemantauannya juga belum tentu bisa optimal, dan seolah-olah kegiatan belajar mengajarnya hanya formalitas. Karena dari sisi edukasi secara interaksi kurang. Berbeda dengan Singapura waktu covid siswanya dikasih laptop dan dikasih kurikulum baru semacam e-learning. Sehingga dalam kondisi sulit, mereka tetap menjaga kualitas SDM,” pungkasnya.

Sementara, Arwan, warga Kokap, Kulon Progo menyebut perlu konsep jelas sebelum kebijakan sekolah daring diberlakukan. Hal itu agar tidak berdampak pada penurunan kualitas pendidikan.

“Pemerintah harus mempunyai konsep yang jelas untuk mengantisipasi penurunan kualitas pembelajaran melalui daring. Mungkin dari segi efisiensi BBM akan berhasil, tetapi kecerdasan siswa juga harus dijamin melalui pembelajaran yang berkualitas dan bermutu,” tandas Arwan.

Arwan juga menyebut jika pembelajaran secara daring diberlakukan seperti halnya saat pandemi Covid19 lalu, siswa akan beralih pada gadget yang resiko negatifnya lebih besar daripada manfaatnya.

Selain itu, jika sekolah secara luring akan ada interaksi langsung antar siswa, siswa dengan guru dan warga sekolah lainnya yang akan berdampak positif pada tumbuh kembang fisik maupun psikis dan pembentukan kecerdasan emosional siswa.

“Menurut saya siswa akan lebih aman dan bisa mengikuti pelajaran secara luring. Kedekatan siswa dengan guru atau siswa dengan siswa akan menjadikan tingkat emosional antar keluarga sekolah lebih baik. Dan anak akan mudah bersosialisasi dengan bimbingan langsung dari guru,” imbuh Arwan.

Liputan : W Maryanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *