Heboh Isu Suara PSI Besar karena Diduga Tertukar dengan Suara Tak Sah

by -5 views
Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep di kawasan Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (3/1/2024). Foto: ANTARA
Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep di kawasan Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (3/1/2024). Foto: ANTARA

yogyanews.com, Jogja – PSI masih jadi sorotan karena suaranya menunjukkan kenaikan yang menonjol. Kini muncul isu suara PSI besar karena diduga ditukar dengan suara tidak sah di TPS tertentu.

Secara nasional, hingga Sabtu (2/3) pukul 19.07 WIB berdasarkan Sirekap KPU, suara PSI sudah mencapai 3,13% atau 2.402.652. Ini naik 0,01% dari suara PSI pukul 10.00 WIB atau naik 8.878 suara.

Kabar berpindahnya suara PSI dari suara tidak sah di TPS muncul di lini masa X. yogyanews.com lalu menelusuri informasi itu dengan mencocokkan data yang tersedia di Sirekap KPU.
Perpindahan suara itu ternyata terjadi setidaknya di 3 TPS. Pertama di TPS 004 Bulakan Cibeber, Cilegon Banten. Dari data Sirekap, suara PSI tertulis punya 69 suara, sedangkan suara tidak sah 1.
Namun, dilihat lagi dari foto C.Hasil yang diunggah di Sirekap kondisi berbeda terlihat. Dalam foto C.Hasil suara PSI tertulis 1 suara, sedangkan suara tidak sah 69.
Kedua, terjadi di TPS 009, Bendoharjo, Gabus, Gerobogan, Jateng. Suara PSI dalam sistem Sirekap KPU tertulis 50 suara. Lalu, suara tidak sah 2.
Setelah ditelusuri di foto C.Hasil, suara PSI tertera 2 suara, sedangkan suara tidak sah di foto C.hasil mencapai 50 suara.
Ketiga, terjadi di TPS 020 Tanah Grogot, Kecamatan Tanah Grogot, Paser, Kalimantan Timur. Dalam sistem Sirekap suara PSI mencapai 50 suara, lalu suara tidak sah 3.
Kemudian dilihat dari foto C.Hasil, suara PSI 0, sedangkan suara tidak sah 53.
PSI sempat merasa ada hal yang tendensius ketika melihat suara PSI naik. Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, mengatakan, penambahan atau pengurangan suara selama proses rekapitulasi berjalan merupakan hal yang wajar.
“Penambahan termasuk pengurangan suara selama proses rekapitulasi adalah hal wajar. Yang tidak wajar adalah apabila ada pihak-pihak yang mencoba menggiring opini dengan mempertanyakan hal tersebut,” kata Grace Natalie.
Menurut Grace, ada Partai Gelora yang juga punya suara yang lebih tinggi dibanding quick count berbagai lembaga survei. Tapi, mengapa hanya PSI—partai besutan putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep—yang terus dipertanyakan.
“Kenapa yang disorot hanya PSI? Bukankah kenaikan dan juga penurunan terjadi di partai-partai lain? Dan itu wajar karena penghitungan suara masih berlangsung,” kata Grace Natalie.(GG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *