Wagub DIY Ajak Taman Siswa Perbarui Cara Penyampaian Nilai Ketamansiswaan di Era Digital

oleh
KGPAA Paku Alam X, menerima kunjungan jajaran Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (25/6/2026). (Foto: Humas Pemda DIY)
KGPAA Paku Alam X, menerima kunjungan jajaran Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (25/6/2026). (Foto: Humas Pemda DIY)

Yogyakarta, Yogyanews.com – Upaya melestarikan ajaran Ki Hadjar Dewantara dinilai perlu menyesuaikan perkembangan zaman agar tetap relevan bagi generasi muda.

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, saat menerima kunjungan jajaran Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (25/6/2026) menyoroti pentingnya transformasi metode penyampaian nilai-nilai ketamansiswaan tanpa mengubah esensi ajaran yang diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada substansi nilai yang diajarkan, melainkan bagaimana nilai tersebut dapat dipahami dan diterima oleh generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.

Paku Alam X menilai perubahan sosial dan teknologi telah mengubah cara masyarakat, terutama anak muda, dalam menerima informasi. Karena itu, pendekatan yang digunakan untuk mengenalkan filosofi pendidikan Taman Siswa perlu disesuaikan dengan kebiasaan generasi masa kini.

Ia mengusulkan agar PKBTS mulai merumuskan konsep baru dalam proses pewarisan nilai ketamansiswaan melalui berbagai media yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

“Pemanfaatan platform digital, media sosial, hingga berbagai bentuk konten kreatif dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap ajaran Ki Hadjar Dewantara,” katanya.

Menurut Paku Alam X, penggunaan metode yang lebih modern tidak berarti mengubah nilai dasar yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Sebaliknya, pendekatan tersebut justru menjadi jembatan agar pesan yang terkandung dalam ajaran Taman Siswa dapat tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Dalam pandangan Sri Paduka, masih terdapat sebagian generasi muda yang belum mengenal secara mendalam sejarah maupun kontribusi Perguruan Taman Siswa dalam perjalanan pendidikan nasional. Bahkan tidak sedikit yang mempertanyakan posisi dan keberadaan lembaga tersebut di era pendidikan modern saat ini.

Baca Juga  PT JMI Tak Kunjung Operasi, Izin Tambang Kulon Progo di Ujung Tanduk

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi PKBTS untuk melakukan inovasi dalam pola komunikasi dan edukasi kepada masyarakat. Dengan strategi yang tepat, nilai-nilai yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara diyakini tetap memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat bagi generasi sekarang.

Wakil Gubernur DIY menegaskan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, setiap organisasi yang ingin tetap bertahan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Meski demikian, ia optimistis bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara masih memiliki tempat di hati generasi muda.

“Banyak nilai pendidikan yang diperkenalkan oleh tokoh pelopor pendidikan nasional tersebut dinilai tetap relevan dengan tantangan dunia pendidikan masa kini. Keterlibatan generasi muda menjadi aspek penting dalam upaya pelestarian ajaran ketamansiswaan,” kata Paku Alam X.

Sri Paduka bahkan mendorong PKBTS untuk lebih banyak melibatkan Generasi Z dalam berbagai program dan kegiatan organisasi. Menurutnya, kelompok usia muda memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap perkembangan teknologi informasi, tren komunikasi digital, serta pola konsumsi konten di media sosial. Keahlian tersebut dapat menjadi modal penting dalam menyampaikan nilai-nilai Taman Siswa kepada khalayak yang lebih luas.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat PKBTS, Ki Dr. drh. H.M. Munawaroh, menyambut positif masukan yang diberikan Wakil Gubernur DIY. Ia menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki pandangan yang sejalan terkait pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman.

Munawaroh menilai yang perlu diperbarui bukanlah isi ajaran Ki Hadjar Dewantara, melainkan cara penyampaiannya.

“Nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi pendidikan Taman Siswa tetap dipertahankan, sementara media dan metode komunikasi dapat terus berkembang mengikuti karakter generasi yang menjadi sasaran,” ujarnya.

Baca Juga  Forum Ojol Yogyakarta Bergerak (FYOB) Serukan Persatuan dan Perdamaian: “Ojol Jogja Bersatu untuk Indonesia Damai”

Menurutnya, pendekatan yang sesuai dengan pola pikir dan kebiasaan generasi muda akan membuat ajaran ketamansiswaan lebih mudah diterima. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, melainkan menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pembentukan karakter.

Kunjungan PKBTS ke Kepatihan DIY sendiri tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dengan pemerintah daerah. Pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk melaporkan persiapan Kongres PKBTS ke-20 Tahun 2026 yang akan diselenggarakan pada 30 Juni hingga 2 Juli mendatang.

Kongres tersebut mengusung tema “Bersatu dalam Gagasan, Bergerak untuk Perubahan”, sebuah tema yang dinilai selaras dengan pesan yang disampaikan Wakil Gubernur DIY mengenai pentingnya inovasi dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai ketamansiswaan.

Melalui forum tersebut, PKBTS diharapkan mampu merumuskan berbagai langkah strategis untuk memperkuat peran organisasi dalam menghadapi tantangan zaman. Tidak hanya menjaga warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga memastikan ajaran tersebut tetap menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa depan.

Liputan: W Maryanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *