yogyanews.com, Kulonprogo – Pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), telah melampaui target yang ditetapkan untuk 2026.
Hingga September 2026, realisasi retribusi pariwisata yang masuk ke PAD Kulon Progo mencapai Rp 7,789 miliar. Angka tersebut sudah melewati target sebesar Rp 7,7 miliar.
Namun tercapainya target tahunan Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon progo ini apakah benar bukti keberhasilan Dinas Pariwisata dalam mengelola dan mendatangkan wisatawan ke kabupaten Kulon progo?
Pengamat dan Pelaku Pariwisata Agustinus Leo Saputra, S.Par., M.Tr.Par berpendapat, masih terlalu Prematur jika suksesnya Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo karena keberhasilan Dinas Pariwisata Kulonprogo dalam mengelola Pariwisata di Kabupaten Kulon progo.
“Coba kita lihat, Pendapatan itu masih paling besar dari retribusi Kawasan wisata Pantai Glagah, karena pantai glagah diserbu pengunjung dengan Spot barunya di pantai itu, serbuan pengunjung tersebut murni karena tranding di media sosial, dan yang bikin tranding ya pelaku usaha baru dikawasan itu melalui influencer-influencer yang mereka datangkan untuk mendongkrak penjualan, bukan karena eksen Dinas Pariwisata”, ucap Agustinus.
Sedangkan untuk kunjungan kunjungan wisata di spot lainnya seperti di Giri Sembung atau di Desa wisata Sidorejo terbilang tidak signifikan, itupun fondasi yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Sebelumnya, Jadi keberuntungan lain Dinas Pariwisata adalah Pondasi dasar yang di bangun oleh dinas Pariwisata Sebelumnya, belum lagi Spot-spot yang lain yang seakan mati suri, ini menunjukan bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo sama sekali tidak ada Progres dalam Pengembangan Pariwisata.
“Jangan jadikan Tolak ukur tercapainya Target PAD sebagai kesuksesan, tapi lihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dihasilkan dalam jangka Panjang, kalau Cuma mengandalkan keburuntungan sampai kapan? Kalau musim penghujan datang bagaimana? Apakah spot-spot outdoor itu masih bisa bertahan? Apa solusi dari Dinpar sendiri? sedangkan pelaku usaha dispot-spot itu mungkin justrus sudah punya lompatan jauh dalam mengantisipasi hal-hal tersebut”, Tandasnya.
Sebenarnya Pendahulu di Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo Sudah banyak melakukan Inovasi, tinggal bagaimana estafet itu bisa melanjutkan apa yang sudah dilakukan pendahulunya misal seperti Romansa Pansela yang di gelar rutin tiap tahunnya, atau inovasi-inovasi baru yang akan dikembangkan oleh dinas pariwisata.
Namun Sampai Sekarang belum terlihat sama sekali inovasi-inovasi yang dibuat oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon progo, yang ada Cuma event-event yang seakan hanya sekedar menghabiskan anggaran, bahkan event-event yang dulu digelar Dinas Pariwisata bisa menghadirkan Ribuan Peserta, sekarang justru sangat minim peserta, ini malah kemunduran bukan Kemajuan.
Dari sumber terpercaya Dinpar juga sudah beberapa kali mengumpulkan influencer, dengan anggaran yang tidak sedikit, progres dan hasilnya apa? atau sekedar hanya ngeneng-nengi para influencer itu atau salah dalam mengambil influencer ini juga perlu di kaji ulang oleh Dinas Pariwisata.
Harusnya Dinas Pariwisata berani membuka diri, undang beberapa stake holder Pariwisata untuk mendapatkan masukan-masukan yang kemudian menjadi kajian, tapi ini tidak pernah dilakukan, Bahkan Badan Promosi Pariwisata yang seharusnya bisa menjadi mitra Dinas Pariwisata sepertinya juga tidak di fungsikan oleh Dinas Pariwisata, ini kan menjadi aneh.
“Pertanyaannya mampu atau tidak melanjutkan, atau mampu atau tidak membuat inovasi-inovasi atau terobosan baru di Dunia Pariwisata, jika tidak maka ya wassalam”,Pungkasnya.(ewi)

