LDNU Gelar Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Agung Wates Kulon Prgo Hari Ini

by -156 views
Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kulon Progo menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Agung Wates, Kulon Progo, pada Sabtu (21/3/2026) pukul 06.00 WIB. (foto/anung)

Kulon Progo, Yogyanews – Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kulon Progo menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Agung Wates, Kulon Progo, pada Sabtu (21/3/2026) pukul 06.00 WIB.

Kegiatan ini diikuti ribuan jamaah dari berbagai wilayah di seputaran Kecamatan Wates.

Dalam pelaksanaan tersebut, Kiai Burhanul Fahruda, bertindak sebagai imam sekaligus khotib, sementara H. Ilyasin, bertugas sebagai bilal.

Dalam khutbahnya, Burhanul Fahruda menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menguji hasil “Madrasah Ramadan”.

Ia mengingatkan bahwa ketakwaan tidak boleh berhenti di bulan Ramadan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Puasa, menurutnya, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang. Menjaga pandangan, lisan, serta perilaku menjadi indikator keberhasilan ibadah.

Ia juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam berpuasa, karena ibadah tersebut bersifat personal dan hanya diketahui oleh diri sendiri serta Allah SWT. “Di situlah kualitas iman diuji, apakah benar-benar karena Allah atau sekadar rutinitas,” ujarnya.

Selain itu, Ramadan menjadi sarana melatih kesabaran dalam tiga hal, yakni menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, serta menahan diri dari dorongan hawa nafsu, termasuk mengendalikan amarah dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Puasa juga dimaknai sebagai bentuk mujahadah atau perjuangan melawan hawa nafsu, termasuk menjaga lisan dari ucapan yang tidak diridhai Allah serta membangun sikap saling menghormati.

Dalam aspek sosial, ia menyoroti pentingnya menjaga persatuan dan kepedulian. Tradisi berbuka bersama, berbagi takjil, hingga zakat menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan solidaritas dan tolong-menolong.

“Zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk nyata kepedulian sosial agar kesenjangan tidak semakin lebar,” tegasnya.

Melalui momentum Idul Fitri, umat diharapkan tidak kembali pada kebiasaan lama yang bertentangan dengan nilai-nilai Ramadan. Sebaliknya, Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk menjaga kualitas iman, memperkuat persatuan, dan membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Liputan : Anung Marganto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *