Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026

oleh
Jembatan Kewek adalah salah satu jembatan di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jembatan ini melintasi Sungai Code diatasnya, serta menjadi batas antara kemantren Jetis, kemantren Gondokusuman dan kemantren Danurejan
Jembatan Kewek adalah salah satu jembatan di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jembatan ini melintasi Sungai Code diatasnya, serta menjadi batas antara kemantren Jetis, kemantren Gondokusuman dan kemantren Danurejan

yogyanews.com, Jogja – Pemerintah melalui Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah Provinsi DIY resmi memulai proyek penggantian Jembatan Kewek dengan penandatanganan kontrak kerja antara Satker PJN DIY dan PT Wasis Karya Nugraha.

Kepala Satker PJN Provinsi DIY, Tisara Sita, menekankan bahwa proyek ini harus dijalankan dengan prinsip tertib administrasi, tepat mutu, serta efisiensi biaya. Proyek ambisius ini menelan nilai kontrak sebesar Rp19 miliar yang bersumber dari APBN. Berdasarkan kesepakatan, waktu pengerjaan ditetapkan selama 240 hari kalender.

Target penyelesaian atau Provisional Hand Over (PHO) dipatok jatuh pada 25 Desember 2026 mendatang. Secara teknis, jembatan baru ini akan dibangun menggunakan struktur balok girder yang lebih kokoh. Sesuai dengan Detailed Design Engineering (DED) dari Pemkot Jogja, jembatan akan memiliki panjang 30 meter dan lebar total 16 meter.

Luasan tersebut mencakup jalur aspal selebar 11 meter serta fasilitas trotoar di kedua sisi masing-masing seluas 2,5 meter. Proses pembangunan akan diawali dengan pembongkaran struktur jembatan lama (eksisting) sebelum fondasi baru ditanam. Selain jembatan utama, paket pekerjaan ini juga mencakup;

  1. Perbaikan Oprit: Penataan jalan pendekat menuju jembatan agar landai dan aman,
  2. Dinding Penahan Tanah (DPT): Pembuatan tanggul beton pada tebing sungai guna mencegah erosi dan menjaga stabilitas struktur.

Masyarakat diimbau untuk memantau pengalihan arus lalu lintas yang mungkin terjadi selama masa konstruksi berlangsung di kawasan pusat kota tersebut.(ewi)

Baca Juga  Sri Sultan HB X: DIY dan Kyoto Itu Sebagai Dua Jiwa Kebudayaan Saling Menuntun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *