Yogyanews.com- Kesepakatan dibentuknya Pokja Keselamatan Lingkungan Kawasan Luar Bandara YIA Temon, dinilai sebagai pemikiran cemerlang untuk mengatasi berbagai masalah sosial dan lingkungan antara PT Angkasa Pura dan masyarakat.
“Ide ini cemerlang, ini yang dibutuhkan warga masyarakat di sekitar Bandara YIA untuk mengatasi berbagai masalah akibat buntunya komunikasi,” ujar Yusron Martofa, SH, pendamping warga korban kentut jet bus.
Seperti diketahui salah satu poin penting dalam audiensi antara warga korban kentut jet bus dengan PT Angkasa Pura Bandara YIA Rabu (10/9/2025) yakni disepakatinya pembentukan Pokja.
Pokja Keselamatan Lingkungan Kawasan Luar Bandara YIA ini akan bekerja untuk melakukan validasi korban kentut jet bus yang yang akan landing di Bandara YIA dan melakukan penanganan bantuan korban jet bus.
Namun dalam diskusi disepakati Pokja akan dipeluas tugasnya dan akan ada terus selama Bandara YIA masih beroperasi.
“Fungsinya untuk melakukan berbagai komunikasi langsung dengan masyarakat terkait korban jet bus, bantuan yang diberikan, hingga nanti melakukan penanganan masalah gangguan penerbangan akibat kesembronoan warga di lingkungan bandara,” ujar Yusron Martofa.
Yusron Martofa melihat untuk masalah-masalah ini tidak harus menggunakan pendekatan militersme atau standar keamanan, tetapi bisa menggunakan pembinaan dan ide-ide kreatif lainnya.
“Ini Yogyakarta International Airport (YIA) maka harus istimewa, pendekatannya juga harus istimewa, tidak langsung dibekuk dibawa ke polisi atau pengamanan bandara, tetapi bisa dengan cara – cara kreatif,” katanya.
Maka ia mendorong PT Angkasa Pura mengeluarkan legalisasi terhadap kinerja Pokja ini untuk jangka waktu panjang jika perlu selamanya, selama masih ada Bandara YIA.
Regenerasi pengurus Pojka bisa dilakukan setiap dua tahun sekali atau lima tahun sekali tergantung kondisi para personil di dalam Pokja. Tetapi unsurnya harus tetap warga sekitar, person-person dari PT Angkasa Pura dan aparat keamanan setempat.
“Saya selaku pendamping warga meminta agar Pojka ini tidak sesaat, hanya memvalidasi korban kentut jet bus di sisi barat dan timur Bandara YIA yang sekarang sedang heboh,” ujar Yusron Martofa.
Ia mencontohkan, kasus banyaknya tumbuhan liar hingga menyerupai hutan di kawasan luar Bandara YIA itu menjadi masalah, karena gerumbulan rumput menjadi sarang hewan liar seperti ulat, garangan, regul, dan sebagainya.
Ini akan menganggu keselamatan warga di sekitar bandara dan pengguna jalan yang kini semakin ramai di sepanjang depan Bandara YIA.
“Masak depan Bandara Internasional seperti hutan liar tidak terawat, memalukan. Ini butuh ditangani oleh Pokja ke depannya. Lalu validasi korban kentut jet bus, dan pembinaannya lebih lanjut butuh komunikator yang familier,” ujarnya.
Menjaga tangan-tangan jahil yang corat coret di fasilitas Bandara YIA wilayah luar itu juga butuh dilakukan pembinaan secara beradab dan kreatif. Maka keberadaan Pokja ini sangat penting.
“Saya mengacungkan jempol kepada penemu ide Pokja dalam mengatasi kebekuan komunikasi antara warga sekitar bandara dengan PT Angkasa Pura ini. Ia harus mendapat apresiasi yang luar biasa, ampai bisa berfikir sejauh itu,” katanya.
Yusron Martofa mengatakan, ide Pokja itu terlontar sebelum warga dan PT Angkasa Pura melakukan dialog, sehingga semua kita terngiang akan gagasan tersebut sebagai sesuatu yang brilian.
“Terimaksih kawan sudah menginspirasi kita semua, sehingga dialog yanbg berlangsung terasa adem kreatif dan cerdas, semua bisa menerima dengan lapang dada, penuh canda tawa dan tidak terbantahkan,” katanya.
Yusron Martofa meminta PT Angkasa Pura bisa memelihara kelangsungan Pokja ini sebagai instrumen yang penting untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat dfi sekeliling Bandara YIA.
Reporter : Ewi






