1.500 Hektar Lahan Tanaman Padi Terancam Fuso, Komisi 2 DPRD Kulon Progo Minta DPU Turun tangan

oleh
Anggota Komisi 2 DPRD Kulon Progo, Nasib Wardoyo mendesak agar Bidang Pengairan DPU Kulon Progo segera turun tangan mengatasi macetnya irigasi di sejumlah wilayah seperti Sindutan, Palihan, Plumbon, Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo (foto/ist)

Yogyanews.com – Anggota Komisi 2 DPRD Kulon Progo, Nasib Wardoyo mendesak agar Bidang Pengairan DPU Kulon Progo segera turun tangan mengatasi macetnya irigasi di sejumlah wilayah seperti Sindutan, Palihan, Plumbon, Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo .

Ia mengatakan, di sejumlah wilayah tersebut kini air irigasi sudah tidak mengalir sama sekali sehingga mengakibatkan para petani harus bersusah payah membuat sumur bor untuk mengairi tanaman padi milik mereka yang kini berusia antara satu bulan.

“Akibat macetnya irigasi dan kekeringan ini sedikitnya 1.500 hektar lahan tanaman padi milik rakyat kini terancam fuso karena irigasi sudah tidak ada sejak tiga minggu terakhir, “ ujarnya.

Sementara upaya penmyelamatan tanaman padi dengan mengambil air dari sumur bor tidak memungkinkan karena untuk bisa memperoleh air butuh ngebor lahan lebih dari 15 meter, sehingga untuk ngangkat air butuh pompa air besar. Ini yang tidak mungkin dilakukan rakyat, petani,” ujarnya menambahkan.

Nasib Wardoyo mengatakan, tidak adanya irigasi ini membuat lahan tanaman padi milik petani terancam fuso padahal lahan tanaman padi tersebut kini mestinya sudah waktunya matun (usia lebih dari satu bulan, red) dan kini sudah banyak lahan tanaman padi mulai menguning, paparnya kepada Proliman News Rabu (24/6/2026).

Nasib Wardoyo menegaskan, jiga tidak ada tindakan apapun dari Bagian Irigasi Dinas PU Kulon Progo maka diyakini, 1.500 hektar lahan tanaman padi bakal fuso alias gagal panen, dan akan memperngaruhi program ketahanan pangan pemerintah.

Disebutkan, untuk mengatasi gagal panen serta fuso tersebut maka sebaiknya segera dilakukan pembukaan pintu air di sejumlah intage yang berhubungan dengan lahan di wilayah Kapanewon Temon tersebut dan mensuplai air dari Waduk Sermo.

Baca Juga  Kulon Progo Peroleh 45 Emas di Porda DIY 2025, Anung Marganto: Itu Sudah Melebihi Target

Ia menegaskan, bahwa pihaknya tahu, memang musim kekeringan kini terus merambah di berbagai tempat dan sejumlah wilayah sekarang ini jadual irigasinya ditutup karena musim tanam palawija.

Tetapi karena di wilayah Kapanewon Temon sejak awal Juni 2026 lalu petani mulai menanam padi dengan perkiraan masih ada hujan dan saluran irigasi juga dibuka, maka tanaman padi di lahan tersebut tetap harus diselamatkan.

Setidaknya ada aliran irigasi dari sejumlah sumber dengan kapasitas besar meskipun tidak harus mengalir terus menerus atau tidak setiap hari ada aliran air.

Nasib Wardoyo mengatakan, setidaknya setiap dua hari sekali atau tiga hari sekali aliran irigasi untuk lahan tanaman padi di wilayah Kapanewon Temon harus diupayakan, agar lahan tanaman padi bisa diselamatkan.

“Lahan tanaman padi ini butuh diselamatkan agar ketahanan pangan terjaga, dengan cara apa ? Ya dilokasi ini harus ada tindakan penyelamatan, dengan mengalirkan air irigasi dari sejumlah intage, meski tidak zsetiap hari,” tegasnya.

Nasib Wardoyo mengatakan,  Komisi  Dua DPRD Kulon Progo meminta Bidang Pengairan, DPU KP turun tangan menyelamatkan padi yang tidak ada, air.

“Pengaturan tata kelola air mohon diperbaiki agar wilayah hilir kebagian air. Itu satu. Lalu ingat, ini persoalan ketahanan pangan. Bagaimana Program Ketahanan Pangan bisa tercapai jika petugas pengairan atau irigasi tidak memberi dukungan pada upaya petani menanam padi seperti ini,” tegasnya.

Liputan : Suyono Sugondo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *