Yogyanews.com, Kulon Progo – Rencana pemindahan sejumlah Program Studi (Prodi) Sekolah Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari wilayah Kulon Progo ke Gunungkidul mendapat respon DPR RI.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati menuturkan kampus UNY di Kulon Progo dan Gunungkidul sebenarnya memiliki segmentasi pasar mahasiswa yang berbeda. Kampus Kulon Progo dinilai strategis bagi mahasiswa dari wilayah Jawa Tengah, sementara Gunungkidul lebih menjangkau wilayah timur seperti Pacitan.
MY Esti berkomitmen mempertahankan keberadaan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Kabupaten Kulon Progo.
“Harapan kita UNY di Kulon Progo ini jangan dipindahkan. Lokasi ini menampung mahasiswa dari berbagai wilayah yang mungkin keberatan jika harus berpindah lokasi,” ujarnya.
Sebagai anggota DPR RI yang bermitra dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), MY Esti berencana menjalin komunikasi dengan kementerian terkait agar prodi yang sudah ada di Kulon Progo tetap dipertahankan, sementara pengembangan di Gunungkidul bisa diarahkan pada program studi baru lainnya.
“Ini tugas saya karena Dikti adalah mitra kerja saya. Saya akan berusaha menyampaikan agar prodi di Kulon Progo tetap berada di sini. Sayang sekali kalau sampai pindah (eman-eman),” kata MY Esti Wijayati, usai membuka Musyawarah Anak Cabang (musancab) PDI Perjuangan Kulon Progo di Panti Marhaen Kulon Progo, Minggu, (3/5/2026).
MY Esti menegaskan bahwa keberadaan kampus UNY di Kulon Progo harus dipertahankan karena memberikan efek domino yang positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, terutama sektor jasa kos-kosan dan usaha kecil lainnya. Dengan kepindahan prodi-prodi tersebut, tentunya akan merugikan ekosistem ekonomi yang sudah terbangun.
“Kita harus mengoreksi mengapa pihak kampus memutuskan untuk pindah. Ini menjadi tugas teman-teman di Kabupaten untuk mempertanyakan alasannya. Jika bisa dipertahankan (digendholi), tentu harus kita pertahankan,” urai Esti.
Selain itu, MY Esti juga mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo untuk melakukan lobi secara intensif dan membuka ruang komunikasi dengan UNY, untuk memahami kebutuhan atau hambatan yang dihadapi pihak UNY sehingga rencana pemindahan kampus ke Gunungkidul tersebut muncul.
“Pemkab harus melakukan lobi secara intensif, apa keberatannya sehingga harus pindah dan apa yang diharapkan. Pemkab harus berani menyatakan dukungan atau fasilitas apa yang bisa diberikan supaya mereka tidak pindah,” ujarnya.
Anggota Komisi D DPRD DIY, Fajar Gegana, menekankan pentingnya peran aktif Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dalam menjalin kerja sama erat dengan perguruan tinggi yang ada di wilayahnya.
Ia menjelaskan, kehadiran UNY di Kulon Progo berawal dari Sekolah Guru Olahraga (SGO) pada masa kepemimpinan Bupati Toyo Santoso Dipo. Seiring berjalannya waktu, institusi tersebut berkembang pesat dengan penambahan gedung, fasilitas olahraga, hingga berbagai fakultas baru berkat dukungan penuh dari pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholder) setempat.
“Universitas tidak bisa berdiri sendiri. Cerita awal masuknya UNY ke sini sukses karena semua stakeholder maupun pemerintah menyambut baik dan membangun kerja sama untuk memfasilitasi perkembangannya,” ujarnya.
Selain UNY, Fajar juga menyoroti pentingnya kerja sama dengan universitas lain seperti IKIP PGRI Wates dan rencana operasional Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kulon Progo. Pemkab harus menjadi support system yang nyata melalui pembangunan infrastruktur penunjang.
“Pemerintah kabuparen harus selalu berkomunikasi apa yang perlu dibantu ditingkatkan. Termasuk UGM, dan universitas lain. UGM belum beroperasi apa perlu dukungan sarana prasarana, apa jalan perlu dibangun agar mereka nyaman. Sehingga investasi di bidang pendidikan berkembang baik yang akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (sdm),” pungkas Fajar.(*)







