SPMB SMP Kulon Progo 2026 Ditutup dengan Daya Tampung Terisi 88,3 Persen, Dikpora Akan Evaluasi Menyeluruh

oleh
Kepala Dikpora Kulon Progo Drs. Nur Wahyudi, M.M siap lakukan evaluasi menyeluruh terhadap capaian SPMB SMP Kulon Progo 2026.
Kepala Dikpora Kulon Progo Drs. Nur Wahyudi, M.M siap lakukan evaluasi menyeluruh terhadap capaian SPMB SMP Kulon Progo 2026.

Kulon Progo, Yogyanews.com – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMP Negeri di Kabupaten Kulon Progo untuk Tahun Ajaran 2026/2027 telah resmi ditutup pada 30 Juni 2026.

Dari total 4.544 kursi yang tersedia di 36 SMP Negeri, sebanyak 4.013 kursi berhasil terisi atau sekitar 88,3 persen.

Meski secara umum tingkat keterisian tergolong tinggi, hasil pelaksanaan SPMB tahun ini memunculkan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.

Ketimpangan jumlah peserta didik baru antara sekolah di wilayah dataran dan kawasan Perbukitan Menoreh masih terlihat sangat mencolok.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kulon Progo, sekolah-sekolah di wilayah Temon, Wates, Panjatan, dan Galur mencatat tingkat keterisian mencapai 100 persen.

Bahkan, Kapanewon Nanggulan sempat mengalami kelebihan pendaftar sebelum akhirnya disesuaikan setelah adanya peserta yang mengundurkan diri.

Kondisi berbeda terjadi di kawasan Perbukitan Menoreh. Di mana Kapanewon Girimulyo dan Samigaluh hanya mampu mengisi sekitar separuh dari daya tampung yang tersedia.

Hal ini berdampak terhadap beberapa sekolah memperoleh jumlah siswa baru yang sangat minim di wilayah tersebut.

Dikpora Kulon Progo mencatat SMP Negeri 4 Pengasih dan SMP Negeri 3 Samigaluh menjadi sekolah dengan perolehan siswa paling sedikit, masing-masing hanya menerima lima peserta didik baru dari kapasitas 64 kursi.

Selain itu, SMP Negeri 3 Kokap memperoleh 17 siswa, SMP Negeri 4 Girimulyo menerima 22 siswa, sedangkan SMP Negeri 2 Samigaluh mendapatkan 24 siswa.

Secara keseluruhan, Dikpora Kulon Progo mencatat ada lima sekolah yang masuk kategori kritis hingga menengah karena jumlah siswa barunya tidak lebih dari 30 orang.

Sementara 31 sekolah lainnya berhasil memperoleh lebih dari 30 siswa, bahkan banyak yang terisi penuh.

Baca Juga  SPMB SD Kulon Progo 2026 Tunjukkan Ketimpangan Besar, Dikpora Perlu Lakukan Evaluasi

Dari sisi jalur penerimaan, jalur Domisili Radius, Domisili Wilayah, dan Afirmasi menunjukkan tingkat serapan yang tinggi.

Namun, Jalur Prestasi hanya terisi 958 siswa dari kuota 1.136 kursi atau sekitar 84,3 persen.

Adapun Jalur Mutasi kembali menjadi jalur dengan peminat paling sedikit, hanya enam kursi yang terisi dari total 213 kuota.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, Drs. Nur Wahyudi, M.M., menegaskan bahwa hasil SPMB tahun ini menjadi bahan evaluasi penting.

Menurutnya, penurunan jumlah lulusan SD/MI di kawasan perbukitan menjadi penyebab utama berkurangnya calon peserta didik di wilayah tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan kajian mengenai penataan satuan pendidikan, termasuk kemungkinan melakukan regrouping atau penggabungan sekolah.

Dalam keterangannya, Nur Wahyudi juga menyampaikan bahwa rendahnya serapan Jalur Prestasi perlu mendapat perhatian.

“Evaluasi akan dilakukan, termasuk meninjau efektivitas sosialisasi mengenai persyaratan administrasi prestasi agar kuota pada jalur tersebut dapat dimanfaatkan lebih optimal pada pelaksanaan SPMB berikutnya,” katanya.

Melalui evaluasi menyeluruh ini, Dikpora Kulon Progo berharap pemerataan layanan pendidikan dapat terus ditingkatkan sehingga seluruh siswa, baik di wilayah perkotaan maupun kawasan Perbukitan Menoreh memperoleh akses pendidikan yang berkualitas.

Liputan: Bagus Aryo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *