Yogyanews.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan setelah terjadi awan panas guguran pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 23.58 WIB.
Berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) material guguran Merapi meluncur sekitar 1,8 kilometer ke arah barat atau menuju hulu Kali Sat/Putih.
BPPTKG dalam rilisnya mengatakan peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Merapi masih berada dalam fase aktivitas tinggi, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tetap mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menghimbau masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan bencana diminta tidak beraktivitas di daerah yang berpotensi terdampak awan panas maupun aliran material vulkanik.
Menanggapi beredarnya video yang memperlihatkan puluhan orang berada di kawasan Pasar Bubrah yang disebut-sebut menjadi bagian dari persiapan pembukaan jalur pendakian mandiri, Agus menegaskan bahwa hingga kini seluruh jalur menuju puncak Gunung Merapi masih dinyatakan berbahaya.
“Ancaman terbesar bagi pendaki adalah kemungkinan terjadinya erupsi eksplosif yang dapat terjadi tanpa peringatan berarti. Lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius sekitar 3 kilometer dari kawah. Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian, sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut,” kata Agus.
Agus menambahkan meski saat ini Merapi berada dalam fase erupsi efusif, kondisi ini bukan berarti ancaman letusan eksplosif telah berakhir. Oleh karena itu, aktivitas pendakian tetap tidak diperbolehkan dengan alasan apapun.
Senada dengan Agus, Gubernur DIY Sri Sultan HB X juga meminta para wisatawan maupun pendatang menunda rencana mendaki Gunung Merapi hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Sultan mengatakan wisatawan bukanlah warga sekitar yang telah mengetahui secara persis kondisi Merapi.
“Warga sekitar Merapi itu paham dan dia enggak mau turun, karena hanya mengalir saja dari atas dua kilo sampai dua setengah kilo, enggak sampai pemukiman dan mereka sudah tahu,” ujarnya.
Sultan menyatakan tidak ada larangan untuk berwisata ke Gunung Merapi, selama mematuhi peraturan yang ada dan tetap mengutamakan keselataman.
“Kalau masyarakat sekitarnya paham, tapi kalau pendatang sekadar mau berlibur belum tentu tahu ada batas Merapi. Ya, hati-hati, sementara ini jangan naik,” pungkas Sultan.
Ia kembali mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap aktivitas Merapi yang terlihat tenang sebagai tanda situasi telah aman.
Liputan: Bagus Aryo







